Terapkan Text Mining guna ketahui keunggulan Tanaman Transgenik

Text mining telah secara luas digunakan untuk menggali informasi dari sekumpulan data teks. Kemampuannya dalam membantu menemukan informasi tersembunyi dari data teks yang sangat banyak telah memberikan manfaat kepada berbagai pihak, baik dari pemerintah, peneliti hingga pengusaha. Data teks yang sangat banyak terdapat pada dunia maya (web dan media sosial) menjadi tambang informasi di era digital ini.

Tahun 2003  lalu sampai saat ini, Universitas Jember menjadi sorotan publik baik di tingkat nasional hingga internasional. Sebabnya, salah satu guru besar Universitas Jember yaitu Prof Bambang Sugiharto berhasil membuat sebuah tebu transgenik yang dapat memberikan hasil panen lebih walaupun berada pada lahan yang kering. Tanaman transgenik memang terus dikembangkan oleh para peneliti-peneliti karena tanaman jenis ini dapat membantu mengatasi permasalahan krisis pangan akibat ketidakseimbangan antara produksi pangan dengan daya konsumtif penduduk. Tanaman transgenik ini dihasilkan melalui proses pemindahan gen ke organisme hidup, sehingga organisme tersebut memiliki sifat dan ciri-ciri baru yang akan diteruskan pada keturunannya. Sifat dan ciri-ciri baru tersebut seperti, pembuatan tanaman yang tahan suhu tinggi, suhu rendah, kekeringan, resistensi terhadap organisme pengganggu tanaman, serta kuantitas dan kualitas yang lebih tinggi dari tanaman alami.

Tanaman transgenik terbilang pengembangan yang masih baru. Sehingga penelitian yang berkaitan dengan efek kesehatan dari makanan transgenik masih terbatas. Dampak negatif jangka panjang yang di khawatirkan oleh masyarakat seperti kanker, alergi, hingga resistansi terhadap antibiotik menjadi pertimbangan kehadirannya. Pro dan kontra tanaman transgenik masih belum menemukan penyelesaian. Hingga saat ini BPOM mensyaratkan produk makanan olahan yang mengandung bahan transgenik di atas 5% wajib mencantumkan kode Pangan Rekayasa Genetika (PRG). Dengan pencantuman kode PRG tersebut, masyarakat sebagai konsumen diberi hak untuk memilih, apakah mau mengonsumsi produk makanan transgenik atau non transgenik.

Guna peningkatan dan pengembangannya, dibutuhkan pendapat publik tentang produk tanaman transgenik ini. Selain dengan memanfaatkan data dari jaringan media sosial, juga akan dilakukan survei melalui pengumpulan data berbentuk kuesioner. Nantinya data teks yang telah diperoleh tersebut akan diolah menggunakan text mining dengan harapan memberi informasi tentang persepsi dan kepercayaan publik terhadap tanaman transgenik tersebut.